BKKBN Sumbar Gelar Diskusi Panel Manajemen Stunting di Pasaman Barat

Pasaman Barat – Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat bersama Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat melalui Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) menggelar Diskusi Panel Manajemen Kasus Stunting tahun 2022 tahap II di Kabupaten Pasaman Barat, bertempat di Hotel Gucchi, Kamis (13/10).

Diskusi dibuka langsung oleh Kepala DPPKBP3A Pasaman Barat, Anna Rahmadia yang dihadiri oleh Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat yang diwakili Koordinator Bidang KBKR Rismiati, Direktur RSUD Pasbar drg. Yandri M.Kes, OPD terkait, perwakilan Puskesmas, serta narasumber Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi dr. Deden Antoni, Dokter Spesialis Anak dr Henni, Ahli Gizi Novi Erni, Ahli Psikologi Fera Ferdial.

Dikesempatan tersebut Kepala DPPKBP3A Pasbar Anna Rahmadia menyampaikan bahwa kasus stunting merupakan permasalahan serius yang harus ditangani secara tepat dan menyeluruh, karena dampak yang ditimbulkan sangat merugikan, apalagi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia serta kelangsungan pembangunan bangsa dan negara dimasa yang akan datang.

“Kerugiannya bukan hanya pada masa depan anak itu sendiri, namun akan berdampak juga pada keluarga,” jelas Anna Rahmadia.

Ia juga menjelaskan, diskusi panel ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran, mengetahui penyebab risiko terjadinya stunting pada kelompok sasaran sebagai upaya pencegahan dan perbaikan tata laksana kasus yang serupa.

“Diskusi ini menjadi tolak ukur bagi kita semua yang terlibat dalam penanganan kasus stunting yang ada di Pasaman Barat dalam hal pelaksaannya di wilayah masing-masing sesuai dengan perkembangan yang sudah ada di lapangan,” ucap Anna Rahmadia.

Anna Rahmadia juga menegaskan kepada seluruh stakeholder terkait untuk bekerjasama secara maksimal dalam penanganan kasus stunting, sehingga angka stunting di Pasbar menurun.

Diakhir sambutannya ia berharap pendampingan dilaksanakan sesuai wilayah masing-masing kepada keluarga beresiko harus terus direalisasikan sehingga masalah tersebut dapat diatasi dan tidak terlalu berisiko kepada lingkungan sekitarnya.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Barat melalui Koordinator Bidang KBKR Rismiati menjelaskan tujuan digelarnya diskusi panel adalah untuk melakukan intervensi penurunan stunting melalui pendampingan keluarga yang memiliki manajemen yang baik, responsive dan efektif, mengidentifikasi permasalahan solusi dan treatment yang tepat pada kasus stunting yang membutuhkan pembahasan lanjutan.

Disamping itu, Ia juga menjelaskan bahwa berdasarkan data SSGI Prevalensi balita stunting di Kabupaten Pasaman Barat berada pada prevalensi 24,0 persen. Untuk itu perlu upaya dalam mengatasi hal tersebut, sehingga angka stunting atau anak beresiko stunting di Pasaman Barat dapat ditekan.

“Diharapkan seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan angka stunting ini dapat berperan aktif sesuai dengan tugas yang sudah diemban, sehingga percepatan penangan angka stunting lebih baik kedepannya,” harap Rismiati.