PeristiwaSumatera Barat

Kemarau Panjang Picu Kekeringan, BMKG Pantau Sejumlah Daerah Sumbar

661
×

Kemarau Panjang Picu Kekeringan, BMKG Pantau Sejumlah Daerah Sumbar

Sebarkan artikel ini
Foto : Internet

Padang – Sejumlah wilayah di Sumatera Barat (Sumbar) dilanda kekeringan akibat kemarau panjang.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut angin monsun Australia sebagai penyebab utama.

BMKG memprediksi transisi ke musim hujan akan terjadi pada awal September.

Namun, curah hujan diperkirakan belum merata di seluruh Sumbar.

“Angin Australia mempengaruhi pembentukan uap air di Samudra Hindia, sehingga curah hujan menurun,” ujar JFT PMG Madya Stasiun Klimatologi Sumbar, Rizky A. Saputra, beberapa waktu lalu.

Rizky menjelaskan, penguatan angin monsun Australia mengurangi volume uap air yang membentuk awan hujan dari Samudra Hindia. Akibatnya, curah hujan di pesisir Sumbar berkurang.

Dampak kemarau panjang meluas hingga ke wilayah pesisir, termasuk Kabupaten Agam yang kini kesulitan air bersih.

“Biasanya wilayah timur seperti Solok, Dharmasraya, dan Lima Puluh Kota yang sering kemarau. Sekarang, pesisir pantai juga terdampak,” katanya.

Selain kekeringan, kemarau panjang memicu kebakaran hutan dan lahan. BMKG menyebut kondisi ini sebagai dampak perubahan iklim yang membuat musim menjadi tidak menentu.

Pantauan BMKG menunjukkan hujan belum merata di 10 hari pertama September. “Kadang tiga hari sekali hujan. Di Solok kemarin hujan ekstrim, di wilayah lain tidak hujan,” pungkas Rizky.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.