Pacu Jawi Masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia

  • Bagikan

Tanah Datar – Tradisi anak nagari yakninya pacu jawi merupakan sebuah hiburan masyarakat di Minangkabau. Permainan atau tradisi pacu jawi ini biasanya dilakukan di lahan persawahan yang basah yang mana di gelar ketika usai musim panen. Tradisi permainan pacu jawi ini sudah ada semenjak ratusan tahun yang lalu dan saat ini menjadi agenda pariwisata tahunan dari Kabupaten Tanah Datar.

Dalam upaya pelestarian tradisi pacu jawi tersebut sekaligus menjadi agenda tahunan pariwisata maka Pemerintah Kabupaten Tanah Datar sebelumnya telah mengusulkan agar pacu jawi ini menjadi wariasan budaya tak benda Indonesia. Dan pada akhirnya tradisi pacu jawi yang telah diusulkan Pemkab Tanah Datar ke pemerintah pusat tersebut akhirnya disetujui menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia bersama 8 warisan budaya tak benda lainnya yang ada di Sumatra Barat.

Ke delapan WBTB Sumatra Barat tersebut ialah Basapa dari Kabupaten Padang Pariaman, Marosok dari Kabupaten Sijunjung, Uma dari Kabupaten Mentawai, Tari Balanse Madam dari Kota Padang, Pacu Jawi dari Kabupaten Tanah Datar, Pacu Itiak dari Kota Payakumbuh, Mato yang merupakan sistem bagi hasil rumah makan minang, dan Baju Kuruang Basiba yang telah menjadi salah satu pakaian adat Minangkabau sejak dahulu.

Pemeritah Sumatra Barat menerima secara langsung delapan sertifikat WBTB dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Selanjutnya Pemprov Sumbar dalam hal ini Gubernur Sumbar, Mahyeldi, menyerahkan sertifikat penetapan tersebut kepada masing-masing Pemkab dalam acara Rakor Pemprov dengan seluruh Kabupaten dan Kota se-Sumatra Barat di Hotel Kryad Bumi Minang Padang, Rabu 24 Maret 2021.

Penyerahan sertifikat penetapan pacu jawi di Tanah Datar sebagai warisan budaya tak benda, langsung di terima oleh Wakil Bupati Tanah Datar, Richi Aprian. Beliau mengungkapkan rasa syukurnya terhadap penetapan tersebut dan juga rasa terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam usaha untuk mencapai penetapan WBTB ini, terkhusus kepada masyarakat Tanah Datar.

Beliau juga menambahkan bahwasannya ini menjadi momentum bagi Pemda dan Dinas terkait untuk terus melakukan inovasi dan pembaharuan kegiatan agar terlihat lebih menarik sehingga dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan lagi, tak hanya wisatawan lokal dan nasional saja namun juga banyak mendatangkan wisatawan dari manca negara.

Wakil Bupati Tanah Datar juga dalam penyampaikan di kegiatan rakor tersebut tentang perihal untuk mematuhi protokol kesehatan. Masyarakat harus dapat menerapkan protokol kesehatan ketika event berlangsung agar kegiatan ini dapat berjalan dengan lancar. Diketahui sebelumnya kegiatan pacu jawi di Tanah Datar sudah melakukan beberapa kali uji coba setelah pendemi Covid-19.

Namun dalam kegiatan tersebut masih banyaknya masyarakat yang menyaksikan yang tidak taat dan disiplin dengan protokol kesehatan. Melihat kejadian tersebut Pemda kemudian melarang kembali kegiatan pacu jawi tersebut untuk sementara waktu. Hal tersebut diambil karena Pemda Tanah Datar tidak ingin kegiatan ini menjadi ancaman klaster penyebaran Covid-19 dan yang paling utama sekali Pemda sangat perhatian terhadap kesehatan masyarakat.

Diakhir penyampaiannya, Wakil Bupati Tanah Datar, Richi Aprian kembali menegaskan masyarakat untuk disiplin terhadap protokol kesehatan, menerapkan 3-M, serta ikut untuk mensukseskan program vaksinasi dari pemerintah. Selain itu dengan penetapan pacu jawi sebagai WBTB ini, Wakil Bupati berharap akan menjadi nilai tambah dalam peningkatan ekonomi masyarakat setempat.

Penulis: adhmiEditor: Meliana Gusti
  • Bagikan