Pesan Bersatu dan Sumbar Harus Jadi Benteng Islam

Reflection of Padang Mosque tower where the Ied Fitri pray held. Muslims worldwide celebrate Eid al-Fitr marking the end of the fasting month of Ramadan. Taken on June 15, 2018. Photo : IG @tanharimage
Reflection of Padang Mosque tower where the Ied Fitri pray held. Muslims worldwide celebrate Eid al-Fitr marking the end of the fasting month of Ramadan. Taken on June 15, 2018. Photo : IG @tanharimage
Reflection of Padang Mosque tower where the Ied Fitri pray held. Muslims worldwide celebrate Eid al-Fitr marking the end of the fasting month of Ramadan. Taken on June 15, 2018. Photo : IG @tanharimage
Reflection of Padang Mosque tower where the Ied Fitri pray held. Muslims worldwide celebrate Eid al-Fitr marking the end of the fasting month of Ramadan. Taken on June 15, 2018. Photo : IG @tanharimage

PADANG, KABARSUMBAR–Prediksi cuaca buruk oleh BMKG. Pelaksanaan salat Idul Fitri 1439 Hijriah dipindahkan ke Masjid Raya Sumbar, Kota Padang, Sumtera Barat, Jumat (15/6/2018).

Semula direncanakan awal di halaman kantor Pemprov Sumbar. Saat pelaksanaan salat Id, ribuan umat Muslim di Sumbar memadati masjid megah, sekaligus destinasi wisata. Tifatul Sembiring bertindak sebagai khatib. Dihadapan jamaah ia mengatakan, agama Islam acap kali disudutkan dengan stigma buruk atau pandangan miring dan itu bahkan dari sesama umat Muslim.

Terkait hal itu katanya tidak datang sendirinya, bahkan perhelatan pesta demokrasi yang sebentar lagi akan digelar di 2019, yakni Pileg dan Pilpres. Hal ‘penyudutan’ itu kian tampak.

Mantan Menkoimfo ini pun mengajak untuk bersama-sama bersatu untuk mewujudkan Islam yang penuh rahmat. Tangguh, Islam yang membela saudara-saudaranya.

“Di level nasional, terutama situasi tahun 2018 dengan Pilkada di seluruh Indonesia dan tahun depan ada Pilpres. Sadar atau tak sadar, Islam kerap kali diserang. Islam under attack,” ujar Tifatul dalam khotbah Idul Fitrinya, Jumat (15/6/2018).

Under attack yang ia maksudkan ialah bukan sifat konotatif di Indonesia. Melainkan itu jelas terjadi di beberapa negara di Timur Tengah. Oleh karenanya, Tifatul mengingatkan aura perjuangan masyarakat Palestina, menuntut kemerdekaan dan keadilan. Ada konflik-konflik yang kemudian mengorbankan Islam.

“Pembataian rakyat Palestina. Di perbatasan Gaza. 60 kaum Muslim meninggal dunia di awal Ramadan. Belum selesai, ada Wantimpres ke Israel yang kita tak tahu misinya apa,” kata Tifatul.

Ia berharap Sumbar menjadi benteng Islam ditengah runtuhnya semangat secara perlahan.

“Kita di Sumbar harus menjadi benteng Islam. Ke mana jiwa-jiwa Minang pembela agama?” katanya.

Ada pesan tersirat, yakni agar masyarakat lebih arif dan bijaksana menyikapi isu-isu berkembang, yang acap kali dipergunakan untuk memecah persatuan. Karena, dengan situasi seperti ini, orang asing akan mempergunakannya untuk mengambil keuntungan dan kekayaan negeri.

[lidairak]