Soal UN, Edriana Sebut Pola Memutus Gap

Debat Cawapres Mengembalikan Jiwa 'Undecided Voters'

JAKARTA, KABAR SUMBAR-Menurut grafik dalam dunia media sosial, baik itu facebook, twitter dan lainnya. Elektabilitas cawapres Sandiaga Uno sempat turun drastis, terkadang stagnan pada posisi normal, dan kembali merangkak naik pasca debat cawapres 2019, Senin (19/3/2019).

Hal itu berdasarkan amatan dari para pakar media sosial. Menurut Edriana, juru bicara tim Badan Pemenangan Nasional (BPN), dunia media sosial saat ini banyak diminati anak muda. Bahkan kalangan ibu-ibu juga demikian.

Sehingga, isu-isu atau substansi yang diangkat calon presiden (cawapres) 02, Sandiaga Uno memenuhi harapan para netizen. Ini terangkat, karena masih ada warga yang belum menentukan pilihan (undecided voters), itu masih sampai 30 persen.

Lanjutnya, debat cawapres 2019 adalah debat yang ditunggu para undecided voters, terutama pemain medsos. Undecided voters yang ia maksud adalah kaum terpelajar, melek teknologi sehingga bercokol di medsos.

“Sekali ini lho perdebatan cawapres ditunggu oleh semua orang. Biasanya kan wakil presiden ini tidak terlalu memainkan peran yang penting, nah sekarang sangat penting. Karena disini nanti titik balik dari undecided voters untuk menentukan pilihannya,” terang wanita dari Tanjuang, Pandai Sikek, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumbar.

Menurutnya, Sandi memenuhi harapan para anak muda, dimana tingkat pengangguran anak muda itu sangat tinggi terutama lulusan SMK. Paling tidak ada 61 persen pengangguran itu berasal dari lulusan SMK. Karena diawal mengharap mendapatkan pekerjaan, maka memilih masuk sekolah kejuruan tersenbut.

“Sandi berkali-kali menjelaskan addressing issue tersebut. Sehingga ia menawarkan solusi bagaimana menciptakan 2 juta enterpreneur. Artinya satu enterpreneur bisa menghasilkan 10 lapangan pekerjaan. Ini membuat warganet mengindentifikasi dirinya kepada isu tersebut, makanya grafiknya (Sandi) naik terus,” jelas Edriana, tengah berjuang menuju Senayan dari Sumbar.

“Tidak hanya itu, saya rasa isu yang diangkat memang trending saat ini, misal bagaimana tentang BPJS, kemudian mendapat responding,” menambahkan.

Pengangguran sekaitan dengan pendidikan, hal ini bersingungan dengan gagasan penghapusan Ujian Nasional (UN) dari Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno saat debat cawapres Pemilu 2019, diselenggarakan KPU RI, Senin malam (17/3) di Hotel Sultan, Jakarta.

Isu itu diangkat saat berbicara konteks pendidikan. Terkait hal ini, Edriana, perempuan Minang aktif menulis tentang permasalah keadilan dan kesetaraan perempuan, mengelaborasi terkait tingginya biaya pendidikan dan kemampuan keluarga untuk menyekolahkan anak.

Menurutnya, UN sangat memusingkan orang tua maupun anak didik. Masyarakat dengan perekonomian menengah ke atas tentu akan berupaya terus dengan menekan mengikuti mengikuti les tambahan di luar jam sekolah. Orang tua menyarankan ikut les tambahan tentunya karena ada dorongan dari pihak sekolah. Sementara kepada masyarakat miskin, kemampuan terbatas tidak memungkinkan akan mengikutkan anaknya ikut les mata pelajaran.

“Dia kan ngak mungkin nge-lesin anaknya, boro-boro mengikut les-kan anaknya, sekolah saja syukur Alhamdulillah. Akhirnya gap akan semakin tinggi. Jadi pendidikan jangan sampai menciptakan gap semakin tinggi,” ungkapnya, dalam keterangan persnya, diterima Senin (18/3).

Addressing issue yang disampaikan Sandi saat debat, menurut Edriana, berkancah ke DPR RI itu, memengaruhi dari pada warganet yang masih belum menentukan pilihan (undecided voters) bukan Golput.

“Tawaran-tawaran Sandi karena berkaca dari pada pengalaman dan kunjungan ke sejumlah titik di daerah. Ia memahami akan keadaan sistim pendidikan, mungkin jauh hari ia sudah memikirkan hal ini sebelum terjun ke kancah politik, hingga akhirnya mendampingi cawapres pak Prabowo,” jelas Edriana.

Pertarungan kedua cawapres saat debat pemilu, tentu memberikan dampak positif kepada undecided voters, hingga akhirnya pembicaraan di medsos menjadi topik trend, Sandi merangkak naik.

“Ya mereka itu kaum terpelajar tentu mereka mengerti dan paham, ketika ini menjadi trend topik artinya mantul nih, gw banget,” tambah, Edriana, telah berpengelaman sebagai konsultan gender di Kementerian dan Lembaga Internasional Kementerian bidang Pendidikan.

Sementara itu, Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Fitri Hari, pada medio Agustus 2018 menjelaskan bahwa, undecided voters diprediksi semakin mengecil jelang pelaksanaan pilpres. Ada sekitar 16,2 persen jumlah undecided voters, itu beragam, seperti segmen umur jumlahnya merata. Lalu paling tinggi tu di usia 20-29 tahun sebanyak 15 persen, dan 22,6 persen di atas 50 tahun.

Secara distribusi pendidikan, ada 19 persen bagi tamatan SD, 14 persen tamatan SMP, dan 12,4 persen tamatan SMA dan 17,9 persen pernah kuliah. Terhadap pendapatan, segmentasinya mulai dari Rp400 ribu sampai Rp1 juta dan itu baru 20 persen. Sementara pendapatan di atas Rp2 juta hanya 11 persen.

[kabarsumbar]

Loading...

DomaiNesia

BERITA TERKAIT
Komentar
tunggu...