Jakarta – YouTuber muda Omped Visual kembali menjadi perbincangan hangat.
Kali ini, bukan soal kontennya, melainkan pandangan kritisnya terhadap isu pembatasan media sosial.
Omped Visual menyuarakan pendapatnya tersebut saat menjadi bintang tamu di Podcast Kasisolusi.
Pernyataan pemilik nama asli Alfarid Ramadani itu langsung memicu diskusi luas, terutama di kalangan anak muda dan para kreator digital.
Omped Visual memang dikenal sebagai fenomena baru di dunia konten Indonesia.
Di usia yang masih muda, ia telah berhasil membangun basis penggemar yang sangat besar.
Bagaimana tidak, akun Instagram @omped_visual kini diikuti 1,2 juta orang.
Sementara di TikTok, ia memiliki 11,2 juta pengikut. Kanal YouTube-nya bahkan mencatat angka fantastis, 14,2 juta subscriber.
Dalam podcast tersebut, Omped Visual menilai wacana pembatasan media sosial berpotensi mematikan ruang gerak bagi para kreator yang baru merintis karier.
“Banyak yang hidupnya benar-benar bergantung dari konten,” ungkap Omped, yang pernyataannya ini dinilai mewakili realitas generasi kreator saat ini.
Latar belakang Omped Visual membuat pernyataannya semakin kuat.
Seluruh konten yang ia unggah direkam hanya dengan menggunakan handphone.
Tidak ada kamera profesional, studio mewah, atau tim produksi besar di balik layarnya.
Namun, dari kesederhanaan itu, lahir angka-angka yang mencengangkan.
Dalam kurun waktu dua tahun, Omped Visual berhasil mengumpulkan 14,2 juta subscriber YouTube.
Salah satu pencapaiannya yang paling mencengangkan adalah ketika video shorts-nya menembus satu miliar tontonan hanya dalam satu bulan.
Hingga kini, total tayangan di kanal YouTube-nya telah mencapai sekitar 13,7 miliar views.
Angka tersebut membuat banyak orang tercengang. Jika dibandingkan dengan lima YouTuber terbesar di Indonesia, total tayangan Omped Visual tercatat hampir dua kali lipat lebih tinggi.
Padahal, jumlah video yang ia unggah hanya sekitar 800 video. Fakta ini membuat namanya kerap disebut sebagai “anomali” di dunia kreator digital.
Dalam Podcast Kasisolusi, Omped Visual juga menegaskan bahwa kekuatan utama konten bukan terletak pada alat, melainkan pada cerita.
Ia mengaku sejak awal lebih fokus menjual ide dan sudut pandang yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Konten sketsa komedi yang ia buat lahir dari observasi sederhana, namun dikemas dengan gaya yang mudah diterima oleh semua kalangan.






