Jangan Salah! Simak Perbedaan Perusahaan B2B dan B2C Ini!

E-commerce merupakan industri yang berkembang cepat. Para ahli memperkirakan bahwa penjualan platform ini akan terus berakselerasi pada Tingkat Pertumbuhan Tahunan Majemuk sebesar 16,5% selama beberapa tahun ke depan, dengan Eropa Tengah dan Timur, Timur Tengah dan Afrika, dan Amerika Latin yang terus menunjukkan tingkat pertumbuhan tercepat, menurut statistik e-commerce.

Ada dua jenis perusahaan dalam penjualan e-commerce, yaitu perusahaan B2B dan perusahaan B2C. Apa itu perusahaan B2B dan B2C?

Perusahaan B2B beroperasi untuk menjual produk dan layanannya ke perusahaan lain. Perusahaan ini akan menggunakan produk untuk operasinya atau menjual kembali produk ke konsumen akhir.

Perusahaan B2C merupakan perusahaan yang beroperasi menjual produk langsung ke pengguna akhir.

Perbedaan kedua perusahaan antar sektor ini tidak selalu jelas. Sebagian perusahaan B2B akan menjual langsung kepada konsumen akhir jika diminta. Beberapa bisnis juga akan melakukan pembelian melalui perusahaan B2C dan menjualnya kembali dengan markup atau menggunakan barang yang mereka beli untuk operasi perusahaan mereka.

Walau begitu, kedua perusahaan ini tetap memiliki perbedaan yang perlu dipahami. Berikut ini adalah perbedaan lengkap dari perusahaan B2B dan B2C.

Perbedaan perusahaan B2B dan B2C

1.    Target Pasar

Sesuai dengan pengertian yang dijelaskan di atas, B2B dan B2C memiliki target pasar yang berbeda.

Perusahaan B2B akan menargetkan pelaku bisnis dan B2C menargetkan konsumen perseorangan. Inilah yang menjadi perbedaan terbesar dari keduanya.

Prospek pasar perusahaan B2B juga lebih kecil karena jumlah pengusaha lebih kecil dibandingkan konsumen. Hal inilah yang membuat potensi penjualan perusahaan ini lebih kecil dibanding B2C yang lebih luas dan hampir tak terbatas.

2.    Jumlah Pembelian dan Harga

Jumlah pembelian memengaruhi jumlah barang yang dibeli dan harganya. Bagi perusahaan B2B, mereka tidak perlu menjual barang dengan jumlah yang besar agar bisa menghasilkan omzet yang tinggi. Hal ini dilakukan karena harga per unit pada perusahaan jenis ini sudah tinggi.

Namun, tidak menutup kemungkinan jika pembeli di perusahaan B2B melakukan pembelian dalam jumlah yang besar.

Untuk perusahaan B2C, model perusahaan ini mewajibkan perusahaan untuk menjual produk dalam jumlah yang besar agar mampu menghasilkan omzet. Ini dilakukan karena harga yang dijual sangat murah per unitnya. Apalagi jarang ada pembeli yang membeli barang dalam jumlah besar.

3.    Motivasi

Motivasi pembeli dalam melakukan pembelian di kedua jenis perusahaan ini juga berbeda. Sebagai perusahaan yang mengembangkan bisnis, Anda harus mengetahui motivasi pembeli. Bagi perusahaan B2B motivasi pembeli adalah untuk memaksimalkan keuntungan, efisiensi dalam penjualan, dan investasi. Pembeli membeli barang dari perusahaan bukan untuk memenuhi kebutuhan emosional mereka, namun untuk mendapatkan keuntungan.

Sementara motivasi pembeli dari perusahaan B2C bisa beragam. Pelanggan yang membeli bisa jadi adalah pembeli yang baru ingin mencoba produk tersebut, memanfaatkan penawaran khusus seperti diskon atau promo, menyukai produk yang dibeli, membeli untuk hadiah, dan berbagai alasan emosional lainnya. Apapun alasannya, motivasi para pembeli di model B2C lebih mengedepankan sisi emosional diri mereka.

4.    Membuat Keputusan

Masih menyinggung poin sebelumnya, pembeli B2B adalah pembeli yang mendahulukan kelogisan dibanding emosional. Pembeli harus mempertimbangkan banyak hal mulai dari keuntungan jangka panjang saat membeli barang. Tak jarang, pembeli akan meminta pertimbangan dari banyak pihak. Dalam sekali transaksi, pembeli akan meminta pertimbangan dari sejumlah pihak mulai dari direktur, manajer, finansial, bagian legal, sampai marketing. Inilah yang menjadi alasan mengapa proses pembuatan keputusan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Hal ini tentunya berbeda dari pembeli B2C yang mengedepankan sisi emosional diri. Produk yang dibeli biasanya akan digunakan untuk lingkup yang sempit dan personal. Sehingga dalam membuat keputusan akan dilakukan secara individu. Pembeli B2C bisa meminta pertimbangan dari orang lain, namun proses yang dilakukan tentunya tidak serumit model B2B. Hal ini akan memberikan kemudahan dan proses pembelian jadi lebih cepat.

5.    Hubungan antara penjual dan pembeli

Kedua model ini tentu memiliki hubungan antara penjual dan pembeli, namun tetap memiliki perbedaan yang kontras. Dalam kasus perusahaan B2B, proses pembelian barang yang panjang dan rumit akan membuat perusahaan dan pelanggan B2B menjalin kerjasama jangka panjang.

Apalagi jika perusahaan bisnis memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan, maka pembeli akan terus melakukan transaksi dengan perusahaan tersebut. Bisa disimpulkan kalau reputasi dan pengalaman jadi faktor yang sangat penting dalam bisnis B2B.

Hal ini tentunya berbanding terbalik dengan model B2C. Motivasi personal dan pengambilan keputusan yang cepat akan membuat hubungan berlangsung pendek. Apalagi jika pembeli menemukan promo atau diskon di toko lain yang membuat mereka mudah berpaling dari satu produk ke produk lainnya. Hal inilah yang membuat perusahaan B2C harus terus melakukan peningkatan loyalitas pelanggan mereka.

Meski sama-sama menjual sebuah produk namun perusahaan B2B dan B2C memiliki perbedaan yang sangat kontras. Perbedaan ini juga memengaruhi alur bisnis kedua perusahaan.

Jika perusahaan Anda ingin bergabung dalam model bisnis B2B maka bergabunglah dengan Blibli for Business. Layanan terbaik dari Blibli ini akan membantu Anda mengembangkan bisnis perusahaan Anda.

Blibli for Business memiliki rangkaian produk terbaik dengan 12 pilihan kategori produk utama mulai dari elektronik, dekorasi dan perabotan, suku cadang dan spare parts, sampai kebutuhan harian.

Segera daftarkan perusahaan Anda di Blibli for Business untuk mendapatkan keuntungan berlimpah.