Pentingnya Komunikasi Keluarga dalam Menghindari Kekerasan Verbal dan Non-verbal pada Anak

  • Bagikan

Oleh : Viona Putri Yarisda, Mahasiswi Magister Ilmu Komunikasi FISIP UNAND

Dalam satu unit keluarga, idealnya terdapat seorang ayah, ibu, dan anak. Pola komunikasi yang terjadi di dalam suatu keluarga adalah komunikasi keluarga, dimana sumber komunikasinya berasal dari orang tua kepada anaknya, atau sebaliknya yaitu dari anak kepada orang tuanya. Dari pola komunikasi keluarga ini, maka orang tua memiliki posisi yang cukup penting dalam pembentukan kepribadian anak serta dalam mendidik anak.

Namun, terkadang orang tua, yakni Ayah dan Ibu seringkali lalai dan kurang memperhatikan cara mendidik anak-anak mereka dengan baik dan benar. Selama ini, banyak didapati orang tua yang justru mengkomunikasikan sesuatu kepada anak dengan cara yang salah. Contohnya berkomunikasi kepada anak dengan disertai kekerasan verbal maupun non verbal.

Apa itu kekerasan verbal? Kekerasan verbal / verbal abuse bisa diartikan sebagai bentuk kekerasan non fisik yang umumnya berupa kata-kata, seperti membentak, menghina, mempermalukan, atau memaki dengan menggunakan kata-kata yang tidak pantas seperti anak bodoh, nakal, kurang ajar, anak tidak tahu diri, dan lain sebagainya. Verbal abuse ini seringkali terjadi ketika anak meminta perhatian,  menangis, tidak mau diam, anak membangkang, anak yang terus berbicara, yang kemudian memicu orang tua melakukan verbal abuse pada anak.

Lalu apa yang dimaksud dengan kekerasan non verbal? Kekerasan non verbal / non verbal abuse ialah bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap fisik. Kekerasan non verbal kerap dilakukan menggunakan alat atau anggota tubuh, misalnya kaki atau tangan. Biasanya orang tua melakukan kekerasan non verbal kepada anak dalam bentuk tamparan, pukulan, tendangan, dan segala bentuk kekerasan yang menyebabkan luka fisik.

Adanya kekerasan verbal maupun non verbal ini, secara tidak langsung telah menunjukkan komunikasi keluarga yang negatif kepada anak dan apabila dilakukan secara terus-menerus dapat menciptakan lingkungan keluarga yang toxic (toxic family).  Lingkungan keluarga yang toxic sangat tidak nyaman bagi anak. Lingkungan keluarga yang demikian juga bisa membuat anak trauma, sulit bergaul, minder, hingga depresi.

Potret komunikasi keluarga yang disertai kekerasan verbal dan non verbal bukanlah contoh yang baik dalam mendidik anak. Orang tua melakukan kekerasan verbal atau non verbal mungkin bertujuan untuk mendidik anaknya agar selalu mengikuti apa kata orang tua. Namun disisi lain, anak seringkali tidak menangkap maksud orang tua tersebut, sehingga yang ada di benak anak adalah orang tua merupakan sosok yang jahat, tidak peduli dengan anak, kasar, dan anggapan negatif lainnya. Jika hal ini terjadi, maka komunikasi keluarga yang terjadi dapat dikatakan tidak efektif.

Dalam hal ini, orang tua seharusnya menyadari pentingnya komunikasi keluarga yang dilakukan secara baik guna keberhasilan dalam mendidik anak-anaknya . Untuk mendidik anak dengan baik dan benar, tentu bukan dilakukan dengan komunikasi yang disertai dengan kekerasan verbal maupun non verbal, melainkan dengan memberikan contoh bagi anak-anaknya, baik dalam hal sikap, perilaku dan bahasa. Apabila sikap, perilaku dan bahasa orang tua baik, maka secara otomatis akan ditiru oleh anak itu sendiri.

Selain itu, setiap mengkomunikasikan sesuatu kepada anak, orang tua sebaiknya melakukannya dengan lemah lembut, tidak memakai emosi, tidak menggunakan intonasi yang keras. Dengan begitu anak akan lebih memperhatikan, patuh, dan bisa memahami maksud orang tua dengan baik, ketimbang dengan cara kekerasan verbal maupun non verbal.

  • Bagikan