Sejumlah kepala daerah di Sumatera Barat diprediksi akan meramaikan kontestasi Pemilu Legislatif (Pileg) 2029 setelah tidak lagi bisa maju dalam pemilihan kepala daerah.
Mereka sepertinya adalah, Bupati Tanah Datar Eka Putra, Gubernur Sumbar Mahyeldi, Bupati Sijunjung Benny Dwifa Yuswir, dan Wali Kota Padang Panjang Hendri Arnis.
Modal Basis dan Popularitas
Sebagai pejabat publik yang telah dua periode menjabat, keempat figur ini memiliki modal elektoral yang signifikan.
Popularitas yang sudah terbentuk melalui program dan kebijakan selama menjabat akan menjadi faktor utama dalam meraih dukungan.
Eka Putra, misalnya, telah membangun basis dukungan kuat di Tanah Datar melalui program pariwisata dan pemberdayaan UMKM. Dia berangkat dari politisi Partai Demokrat.
Sementara Mahyeldi, dengan jejaring PKS dan popularitasnya sebagai Gubernur, diyakini memiliki pengaruh melampaui Padang hingga ke kabupaten/kota lain di Sumbar.
Segmentasi Pemilih
Benny Dwifa Yuswir yang relatif muda dinilai akan lebih mudah menjangkau segmen pemilih milenial dan Gen Z, yang jumlahnya terus meningkat pada Pemilu 2029.
Sedangkan Hendri Arnis mengandalkan loyalitas masyarakat Padang Panjang yang selama dua periode menjadi basis politiknya.
Tantangan Konversi Suara
Meski modal elektoral kuat, tantangan terbesar bagi mereka adalah mengonversi dukungan lokal menjadi suara legislatif di daerah pemilihan (dapil) yang lebih luas.
Pileg berbeda dengan pilkada karena basis suara tidak hanya terpusat di satu wilayah, melainkan tersebar di berbagai kabupaten/kota.
Modal popularitas sebagai kepala daerah memang penting, tetapi tidak otomatis menjamin kemenangan di legislatif. Mesin partai dan strategi komunikasi ke luar basis menjadi faktor penentu.
Persaingan Ketat
Dengan banyaknya figur populer dari Sumbar yang juga diprediksi maju ke DPR RI, persaingan Pileg 2029 dipastikan akan semakin ketat.
Namun, keberadaan para mantan kepala daerah ini diyakini akan memperkuat daya tarik kontestasi sekaligus menambah variasi pilihan bagi pemilih.






