Mengenal Lebih Jauh Sejarah Suku Bendera Merah ‘Sirah’

Mengenal Lebih Jauh Sejarah Suku Bendera Merah ‘Sirah’
Suku Jambak. Foto: Internet

PadangTiap daerah di Indonesia memiliki berbagai suku dengan keunikannya tersendiri. Di Sumatera Barat sendiri terdapat Suku Jambak yang hingga saat ini masih banyak ditemukan di antara orang Minang. Suku bendera merah atau ‘sirah’ merupakan warna bendera dari salah satu suku yang ada di Minangkabau, yakni suku Jambak.

Suku ini merupakan suku pengembara yang berasal dari tanah Tiongkok yang dipimpin oleh seorang raja perempuan yang bernama Hera Mong Champa/Harimau Champo. Banyak yang mengatakan bahwa suku ini merupakan percabangan dari dua suku sebelumnya yaitu suku Kotopiliang dan Bodychaniago. Nyatanya suku ini mempunyai percabangan sendiri dan kehadirannya dari negeri seberang telah menyebar ke wilayah daratan Minangkabau.

Untuk lebih jelasnya, mari kita kupas tentang suku merah ‘sirah’ ini.

Sejarah

Ilustrasi Pakaian Adat merah ‘sirah’ Suku Jambak. Foto : internet

Kelompok suku Champa yang berasal dari negeri Tiongkok melakukan pengembaraan ke wilayah daratan Minangkabau yaitu di Koto Tuo. Mereka datang dengan seorang pimpinan raja perempuan yang terkenal kejam bernama Hera Mong Champa yang datang dari Mongolia.

Namun, pendapat lain mengatakan Hera Champa berasal dari Siam (Thailand) atau Champa (Kamboja & Vietnam). Beliau sangat konsisten dan patuh terhadap aturan, bahkan ia pernah membunuh anak kandungnya sendiri sebab anak laki-laki nya melanggar aturan yang ada di suku mereka.

Kekejaman suku Champa ini akhirnya melegenda hingga saat ini. Terutama dikalangan orang-orang tua ketika memarahi anaknya dengan melontarkan kata-kata “dicabiak harimau Campo lah ang baa!,” yang artinya keganasan Hera Champa pada masa itu menjelma dengan sebutan ‘Harimau Campo’.

Suku Champa datang ke daratan wilayah Minangkabau menggunakan pakaian serba merah dengan umbul-umbul yang berlambangkan harimau, itulah sebabnya suku ini dijuluki dengan suku bendera merah sirah.  Cara orang Tiongkok menyebarkan suku Champa yaitu melakukan peperangan sehingga menyingkirkan penduduk yang mendiami daerah Koto Tuo.

Lalu, mereka hidup berkembang diwilayah tersebut sampai menyebar ke beberapa daerah. Suku Champa akhirnya menyebar luas diwilayah Agam setelah berhasil mengalahkan para pengembara Turkestan. Keberadaan suku Champa di wilayah Agam terjadi sebelum pindahnya penduduk Koto Piliang ke Luhak Limo Puluah Koto. Oleh sebab itu, wilayah Agam dikenal sebagai Luhak Nan Tangah.

Dengan proses yang begitu panjang dari keberadaan pengikut Hera Champa di wilayah Agam, maka terjadilah perubahan nama dari suku Champa menjadi suku Jambak. Perluasan wilayah pertama oleh suku Jambak adalah ke daerah Panampuang (salah satu nagari yang ada di Kecamatan Ampek Angkek) dan akhirnya menyebar ke seluruh wilayah lainnya.

Hal Unik ‘Urang Jambak Tiok Baralek Pasti Turun Hujan Labek’

Lareh Bodi Caniago, lareh / prov. Sumatera Barat – wilayah Minangkabau |  Kesultanan dan Kerajaan di Indonesia
Ilustrasi Pernikahan. Foto : internet

Bagi orang Minang, tentu sudah tidak asing lagi jika mendengar istilah ‘Urang Jambak Tiok Baralek Pasti Turun Hujan Labek’. Istilah tersebut masih berlaku sampai saat ini, menurut cerita yang beredar secara turun temurun mengatakan bahwa istilah tersebut bermula ketika perkampungan suku Jambak mengadakan acara pesta/perhelatan. Namun, perkampungan tersebut sedang  dilanda kemarau panjang, sehingga penduduk perkampungan tersebut memohon kepada Tuhan agar diturunkan hujan, sebab mereka sangat membutuhkan air.

Cerita lain mengatakan alasan istilah tersebut melegenda hingga saat ini ialah ucapan kutukan dari seorang kakek tua yang berjalan tergopoh-gopoh saat matahari terik, kakek tersebut melihat dari kejauhan ada yang mengadakan pesta pernikahan. Si kakek tersebut mendatangi tempat tersebut hanya untuk meminta segelas air minum, namun para tamu yang melihat kehadiran kakek tersebut merasa jijik dan kehilangan selera makan sebab kakek tersebut berpakaian kumuh dan berjalan dengan bantuan tongkat kayunya.

Tuan rumah yang melihatnya merasa malu dengan para tamu undangan, lalu mengusir kakek tersebut. Dengan perasaan kesal, si kakek langsung melontarkan kata-kata kutukan agar diturunkan hujan. Tidak lama setelah itu tiba-tiba langit menjadi gelap dan seketika hujan turun dengan derasnya. Orang-orang di acara pernikahan tersebut menjadi kewalahan karena pesta mereka tidak berjalan lancar karena turun hujan.

Itu dia sejarah dan hal unik dari suku Jambak atau suku bendera merah sirah.

Baca Kabarsumbar.com lebih update via Google News, Klik Disini atau Join Telegram Disini.