PADANG, KABARSUMBAR – Adanya kerjasama antara Bukittinggi, Limapuluh Kota, Agam dan Tanah Datar sudah menjadi kebutuhan mendesak bagi pengembangan pariwisata Sumbar secara berkelanjutan.
Anggota Tim Percepatan Pariwisata Sumbar, Muhammad Zuhrizul memaparkan, empat daerah ini harus bersinergi, saling mendukung, bersama-sama mencari solusi permasalahan, hingga jadi satu kawasan wisata yang saling menopang.
Menurut Zuhrizul, beberapa hari lalu dia diskusi dengan Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias dan beberapa tokoh. Sangat banyak gagasan untuk kemajuan pariwisata yang muncul dan apabila terwujud akan membuat pariwisata Sumbar akan menjadi semakin baik.
Dia mencontohkan, untuk persoalan macet dan sempitnya jalan Padang Luar, Agam – Bukittinggi. Sudah sepatutnya dibuat jalan layang untuk memecah mobil/bus. “Bisa saja nanti mobil atau bus yang akan menuju Maninjau belok ke kiri dan yang menuju Riau atau Sumut belok ke kanan,” ujarnya.
Menurutnya, hal itu bisa terwujud jika kita sama-sama memperjuangkannya. Di Bali pemerintah gelontorkan dana triliunan rupiah membuat tol membelah laut. Bahkan di Papua yang tidak ada macet pun pemerintah membuat jalan Trans Papua.
Meski begitu, Zuhrizul menilai ini sulit diwujudkan kalau kepala daerah kabupaten penyangga tidak duduk bersama seperti saling dukungnya Jabodetabek.
Sehebat apa pun geliat wisata Bukittinggi tanpa didukung daerah lain sebagai penyangga maka pariwisata akan jalan di tempat. Daerah tetangga juga tidak ikut merasakan dampak positif pariwisata.
“Integrasi solusi dan sinergi inilah yang sangat dibutuhkan pariwisata Sumbar hari ini. Pemprov harus mengambil peran leadership action atau adanya inisiatif/ niat dari beberapa kepala daerah adalah hal mendesak/solusi untuk disampaikan ke pemerintah pusat bersama-sama,” ulas owner Lawang Park yang juga sukses memberdayakan masyarakat Mandeh ini.
(Hijrah Adi Sukrial)






